Cut Puteri, Wanita Muda Perekam Tragedi Tsunami Aceh

Cut Putri, bersama abi (ayah), ummi (ibu) dan Syarif abangnya berada di aceh
sejak 16 Desember, dan sudah memegang tiket pulang untuk tanggal 27 Desember.
“Kami ke Aceh dalam rangka menghadiri pernikahan kakak sepupu pada 18
Desember,” tuturnya. “Pada 26 Desember, kebetulan ada acara Tung Dara Baro,
acara mengantarkan pengantin perempuan ke mempelai pria. Mungkin kalau di Jawa
namanya ngunduh mantu,” jelasnya. Saat itu, mereka bersama keluarga besar
lainnya berada di rumah Kombes Sayed Husaini, Kabid Humas Polri NAD–omnya yang
disapanya dengan Pak Cik. “Kebetulan mobil Pak Cik untuk membawa pengantin
perempuan ke Lam Jame, ke tempat mempelai pria. Acara rencananya mulai jam 10
pagi, dan kita pagi-pagi sekali sudah persiapan dari rumah menuju lokasi”
lanjut Putri.

Jam 8.00, di hari kejadian, keluarga besar itu mulai sarapan. Tiba-tiba terasa
gempa, awalnya pelan. Gempa itu tidak berhenti-berhenti. Keluarga besar itu
keluar rumah menuju taman. “Lantas ada gempa susulan yang super dasyat, yang
bisa membuat ibu-ibu yang berpegangan di pagar berjatuhan. Gempa itu
berlangsung 20 menit tanpa henti,” tuturnya.

Kebetulan Putri yang memang senang mensyut kejadian unik itu sudah menyiapkan
Handycam sejak awal. Begitu gempa kecil, Putri langsung masuk ke dalam rumah,
mengambil handycam dan hand phone untuk menghubungi keluarga lain, dan secepat
kilat keluar lagi. “Saya On Camera, jam 8.15, 15 menit sejak gempa kecil,”
ungkapnya.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh. Awalnya sayup-sayup, seperti deruan mobil.
Semua orang bertanya-tanya. Untuk menenangkan, Putrid an ayahnya menyatakan
kalau itu suara mobil. Lantas Sang ayah membisiki Putri bahwa itu adalah gejala
tsunami. “Kebetulan waktu kecil kami tinggal di Papua, dan sering terjadi
gempa, jadi sudah biasa gempa dan air laut surut. Sehingga mengerti hal-hal
semacam itu. Tapi kami tidak bilang apa-apa kepada ibu-ibu yang lain,” tutur
wanita berjilbab rapi itu. Lama-lama suara itu makin keras menggaung-gaung
seperti suara angin dan pesawat yang sangat keras, “Seperti kita berada di
bandara dan pesawat di depan kita,” Putri bermetafor. Tiba-tiba di hadapan
mereka ada ombak setinggi 8-9 meter, dan pohon kelapa “berlarian”.

“Kejadian itu hitungannyan nol koma nol sekian detik. Pada awalnya, penduduk
sekitar malah mendatangi sumber suara karena ingin tahu. Tapi karena melihat
ombak besar, mereka berlarian menuju rumah kami, dikejar ombak,” jelas Putri,
tenang. Putri menggambarkan bahwa air tidak merayap atau mengalir, tetapi
berdiri seperti tembok, dan isinya lumpur hitam. Sang ayah ayah berteriak:”Ke
atas! Ke Atas!”. Dan semua orang, termasuk beberapa tetangga, masuk ke atas
rumah Pak Cik, dan ada juga yang lari ke tempat lain. “Itu adalah keputusan
yang sangat cepat. Kejadiannya cepat sekali. Putri yang paling akhir naik,
setelah Bantu anak-anak. langsung menaiki beberapa kaki tangga, karena air
mengejar dan sudah di ujung kaki,” katanya.

Begitu lompat dan merasa aman, kamera langsung on lagi. Begitu Putri tiba di
teras lantai dua, air sudah sejauh mata memandang. “Ya sudah, diatas kami
berdzikir dan minta tolong kepada Allah, karena tidak bisa kemana-mana lagi,”
ujarnya. Gambar tampak bergoyang, karena rumah itu bergoyang-goyang dan
seakan-akan ingin ikut hanyut. “Lantai dua kami tidak standar, sekitar 7 meter.
Jadi, saat lantai dua di rumah lain terendam, di rumah kami tidak terlalu,
meski air sudah mulai masuk,” ungkap mahasiswi yang kuliah di Bandung itu.

Tapi mengapa Putri mensyut kejadian itu begitu lama. Apa tidak ada perasaan
cemas atau takut? “Alhamdulillah, ini pertolongan dari Allah, Putri mendapatkan
ketenangan. Dalam keseharian, memang, apapun yang terjadi, Putri mengikhlaskan
segalanya untuk Allah. Saat itu, Putri mau hidup atau mati, itu terserah Allah.
Karena Allah memberikan yang terbaik. Karena masih hidup, Putri harus melakukan
sesuatu yang bermanfaat, salah-satunya mengambil gambar itu,” katanya, panjang
lebar.

Pada waktu merekam gelombang itu, Putri yang punya moto “Laa Takhof wa laa
tahzan. Innallaha Ma?ana, (jangan takut dan jangan sedih karena Allah bersama
kita)” itu berdoa :”Ya Allah, ini Putri masih hidup, Putri ingin merekam
kejadian ini agar bisa diperlihatkan pada orang-orang nanti. Karena Putri yakin
orang luar tidak tahu apa yang benar-benar terjadi, dan dampaknya ke Aceh pasti
sangat luar biasanya. Kalau memang Putri tidak punya umur lagi, tolong
selamatkan kaset ini agar orang lain bisa melihatnya”. Jadi, memang tujuan
rekaman itu agar orang lain tahu tentang kejadiannya secara visual.

Saat kejadian, Putri mensyut gelombang itu selama 60 menit. Lengkapnya, ada 3
kaset, termasuk saat di pengungsian pada awal-awal kejadian. Putri memang punya
hobi merekam gambar yang aneh-aneh dan unik-unik, sejak dapat hadiah handycam
dari ayahnya 5 bulan yang lalu.

Gelombang tsunami telah membuat keluarga besar Putri meninggal dan hilang tanpa
kabar. “Di keluarga saya, alhamdulillah Putri, Abi, Ummi, dan Bang Syarif
selamat. Di rumah Pak Sayed, tiga hilang dan Pak Sayed meninggal,” kata bungsu
dari empat bersaudara itu.

Setelah air surut, keluarga besar itu tercerai berai, mengungsi ke berbagai
tempat. Karena setelah itu pun gempa keras sering terjadi. “Kalau terjadi gempa
lagi, rumah itu bisa ambruk, tidak bisa bertahan lagi.Yang penting menjauhi
pantai dulu, kea rah yang lebih tinggi. Putri baru pulang pada hari kedua, ada
yang empat-lima hari baru pulang. Putri mengungsi ke daerah Sareeh, pegunungan,
sekitar 6 jam perjalanan,” bilangnya. . Putri jalan kaki 3 km dari rumah. Saat
itu ada yang berteriak kalau air naik. Mereka pun panic dan mencegat bis. Bis
yang sudah sesak itu berhenti, dan begitu sudah mengangkut orang, langsung
ngebut. Putri tetap dengan tabah mensyut kejadian di bus. Tangan kanan putri
men-syut, tangan kiri membantu mengambil barang-barang yang berisi makanan dan
apa saja. Di Sareeh, Putri hanya dengan istri Pak Sayed. Yang lain terpencar.
Besoknya, putri ke Lhung Bata dan bertemu disana.

Tanggal 28 Desember, Putri dan keluarganya pulang ke Jakarta khusus untuk
mengantarkan kaset rekaman itu agar dilihat dunia, untuk lalu kembali ke aceh
pada 31 Desember. ” Di Bandara Aceh, walau sudah hari ketiga, sama sekali tidak
ada kegiatan, termasuk sukarelawan dan bantuan apa pun.Waktu tiba di Bandara
Cengkareng, saya tidak bawa apa-apa kecuali baju yang sudah terkena Lumpur dan
tanpa alas kaki. Banyak orang bertanya ?dari mana, mana sepatunya, apa ada
banjir??”

31 Desember, Putri kembali balik ke Banda Aceh dengan membawa obat-obatan dan
relawan dari keluarga. “Alhamdulillah tidak ada kesulitan kembali kesana. Kami
tidak ke Medan, tapi dibuang ke Batam dan penerbangan ditunda selama 7 jam.
Para relawan kecapekan, apalagi tiba di Banda Aceh tengah malam. Bahkan tahun
baru pun Putri lupa. Disana, kita bolak balik, termasuk ke Biruen saat
pemakaman Pak Sayed. Dan saya tetap mensyut,” tukas putri dari pasangan
Syarifah Aqidah dan Teuku Haliman ini.

Semua orang Aceh mungkin mengalami trauma dengan berbagai kadar. “Tapi sampai
mempertanyakan keberadaan Allah, Putri rasa tidak. Karena Putri tahu orang Aceh
agamis dan percaya dengan kasih saying Allah dan tidak pernah marah kepada
Tuhan. Kecuali ada bisikan dari pihak luar. Kalau jiwa orang Aceh, Putri kenal
baik,”imbuhnya.

Semangat ternyata membuat fisiknya menjadi kuat, sehingga tidak jatuh sakit.
“Saat disana seperti hidup di hutan lah, harus siap fisik dan mental. Jangan
sampai menyusahkan orang lain,” ujarnya, seolah menjadi nasihat bagi para
relawan yang ingin ke Serambi Mekkah.

Putri memang sering ke Aceh. Terakhir, 5 bulan sebelum kejadian, Putri juga ke
Aceh karena ada sepupu yang menikah. “Setahun minimal dua kali, karena keluarga
besar disana, disini hanya merantau, “jelas aktivis yang hingga kini masih
bersemangat menggalang dana untuk Aceh itu.

Yang lebih mengagumkan, Putri ingin setiap hal focus untuk menyelamatkan Aceh.
Sehingga video rekaman itu diserahkan begitu saja tanpa ada sepeser uang pun.
Bahkan Putri tidak mau digali mengenai masalah pribadi, seperti tempat kuliah
dan keluarga. “Biar mereka focus dulu ke rakyat Aceh dahulu”, komentarnya.

Dengan rekaman yang ditayangkan cepat, dunia mengetahui dasyatnya kerusakan
akibat tsunami. Dan dunia pun tergerak nuraninya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: